Disebuah perkemahan di wilayah terpencil suatu dusun di Indonesia Ada serombongan pramuka dari sekolah khusus therapi tuna rungu. (yang sudah mulai agak sembuh akan di test perkembangannya)
Saat malam menjelang para Pembina pramuka tersebut mengadakan acara Api unggun.
Ibu Pembina I : "Ayoo anak-anak sekarang kita bermain pesan berantai ya...Ibu minta 10 org maju kedepan… Bella!! Billy!! Bolina!! Balito!! Belina!!
Bolota!! Baliti!! Bilita!! Bilata!! & Bolotla!! Maju kedepan !!" (berbicara menggunakan pengeras suara)
Para siswa yang terdiri dari 21 siswa siswi hanya bisa melihat gerak mulut ibu Pembina tersebut sambil sesekali terdengar selentingan dari mulut siswa-siswi tersebut..
Bella : "Asyiik...kita disuruh Nyantai..." (sambil jingkrak-jingkrakan)
Billy : "Haaah!! siapa yang dirantai?!!" (sambil celingak-celinguk gak jelas)
Bolina : "Waduh!! siapa juga yang nginjek Tai?? Aku ngga kok” (sambil menunjukkan sepatunya ke si Billy)
Dan beberapa komentar lainnya yg ga nyambung…
Ibu Pembina : “Sekarang ibu mulai bisikan kalimat dimulai dari Bella ya.. Sini Bella telinga kamu…!!(seraya berbisik di telinga Bella) : "Kucing kaku karena masuk kulkas"
(1)Bella ke (2)Billy : "Kucing Laku karena masuk kelas"
(2)Billy ke (3)Bolina : "Kucing Lalu merana masuk Gelas"
(3)Bolina ke (4)Balito : "Kuping Palu merasa masuk Beras"
(4)Balito ke (5)Belina : "Kuning Palu terasa tusuk keras"
(5)Belina ke (6)Bolota ke (7)Baliti ke (8)Bilita ke (9)Bilata ke (10)Bolotla
Ibu Pembina : "BAIKLAH SEKARANG IBU MINTA BOLOTLA TERIAKAN PESAN BERANTAINYA !!"
Lalu Bolota Berteriak : "PUSING AKU TERKENA TUSUK DITERAS !!!"
Tampilkan postingan dengan label Cerita Yang Lucu-Lucu Masuk Yuuuk... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Yang Lucu-Lucu Masuk Yuuuk... Tampilkan semua postingan
Minggu
Nasihat Terbaik Kedua
Seorang Pasien sedang memeriksakan kondisi kesehatannya kepada seorang Dokter penyakit dalam. Kemudian dokter tersebut memberikan naehat kepada pasien tersebut.
Sang dokter berkata, "Yang terbaik untuk kamu lakukan adalah berhenti minum minuman keras dan merokok, bangun pagi-pagi setiap hari, dan tidur lebih cepat tiap malam."
Sang pasien menjawab, "Dok, aku nggak pantas mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik kedua ada nggak Dok?"
Sang dokter berkata, "Yang terbaik untuk kamu lakukan adalah berhenti minum minuman keras dan merokok, bangun pagi-pagi setiap hari, dan tidur lebih cepat tiap malam."
Sang pasien menjawab, "Dok, aku nggak pantas mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik kedua ada nggak Dok?"
Terjadi Kesalahan Saat Melakukan Operasi
Dua orang dokter bedah meninggalkan ruang operasi setelah pasiennya dinyatakan meninggal.
"Maaf, kami sudah berusaha semampunya," keluh dokter bedah pertama.
"Tidak, Aku yang berusaha," kata dokter bedah kedua. "Kamu mengacau. Aku dari tadi kan sudah bilang kalau jalan masuk ke jantungnya itu bukan melalui pembedahan di perut!"
"Maaf, kami sudah berusaha semampunya," keluh dokter bedah pertama.
"Tidak, Aku yang berusaha," kata dokter bedah kedua. "Kamu mengacau. Aku dari tadi kan sudah bilang kalau jalan masuk ke jantungnya itu bukan melalui pembedahan di perut!"
Biaya Kuliah Kedokteran
Seorang dokter tua di kota kecil akhirnya berlibur. Ia menugasi anak laki-lakinya, yang baru saja lulus sekolah kedokteran, untuk menjaga pasiennya.
Saat sang ayah pulang, ia bertanya pada anaknya apakah terjadi sesuatu yang tidak biasa.
"Aku menyembuhkan penyakit Nyonya Ida yang sudah dideritanya selama 30 tahun," jawab sang anak dengan bangga.
Ayahnya marah, "Penyakit Nyonya itu yang membuatmu bisa sekolah selama ini sampai lulus sekolah kedokteran! Kok malah kamu sembuhkan itu bagaimana?"
Saat sang ayah pulang, ia bertanya pada anaknya apakah terjadi sesuatu yang tidak biasa.
"Aku menyembuhkan penyakit Nyonya Ida yang sudah dideritanya selama 30 tahun," jawab sang anak dengan bangga.
Ayahnya marah, "Penyakit Nyonya itu yang membuatmu bisa sekolah selama ini sampai lulus sekolah kedokteran! Kok malah kamu sembuhkan itu bagaimana?"
Dibohongi Ayah Sendiri???
Ayah selalu melihat pekerjaan hasil ualangan anaknya di meja.
Ayah : "Kamu kok tumben dapet nilai 10 ?"
Anak : "Ya..iyalah kan anak bapak kan pinter."
Suatu hari bapaknya tanya lagi
Ayah : "Kemarin dapet 10 sekarang 10 lagi hebat kau nak ?"
Anak : "Ya..iyalah kan cuma hitung-hitungan... gampang. Yah, tadi malam aku lihat ayah dan emak kok bugil , malahan ayah diatasnya emak.
Ayah : "Oh itu ayah nyoba mak kuat apa gak kaloo banyak beban hidup."
Anak : "???!!!!????"
Ayah : "Kamu kok tumben dapet nilai 10 ?"
Anak : "Ya..iyalah kan anak bapak kan pinter."
Suatu hari bapaknya tanya lagi
Ayah : "Kemarin dapet 10 sekarang 10 lagi hebat kau nak ?"
Anak : "Ya..iyalah kan cuma hitung-hitungan... gampang. Yah, tadi malam aku lihat ayah dan emak kok bugil , malahan ayah diatasnya emak.
Ayah : "Oh itu ayah nyoba mak kuat apa gak kaloo banyak beban hidup."
Anak : "???!!!!????"
wOooww Hutannya Gundul
Klinik bersalin yang cukup laris mempunyai ruang periksa yang efisien dimana sekali periksa bisa masuk 8 ibu hamil.
Setalah melakukan cek tekanan darah dan timbang badan oleh perawat masing-masing pasien masuk bilik yang dibatasi kain horden.
Pasien langsung tidur telentang dan ngangkang, kaki terangkat bertumpu pada sandaran kaki. sehingga memudahkan dokter periksa dengan cepat, begitu pindah bilik sudah mencapai sasaran.
Karena sudah 4 kali periksa kandungan rutin pada Klinik tersebut, ibu Marpuah asal Madura merasa bangga, kalau dokter kandungannya sangat mengenal dia, pasalnya setiap dokter masuk dan diperiksa pak dokter langsung menyapa akrab walau tanpa melihat wajahnya.
Sambil uwak-uwik, dudul sana dudul sini, pak dokter ngoceh sana-sini, yang akhirnya selalu becanda wah hutannya gundul ya Bu.
Suatu saat bu Marpuah ketemu dokter tersebut di pusat perbelanjaan, kontan sang ibu Marpuah menyapa dengan akrab.
Nyrocos sana-sini, pak dokter kebingungan, lalu bertanya ibu ini siapa??
Ibu Marpuah : "Ealaaah... Saya ibu Marpuah pak, masak lupa tho tiap Rabu pagi saya kan kontrol ke bapak."
Dokter : "Ya...Ya... Tapi pasien saya kan banyak bu".
Ibu Marpuah : "Alaaahh.... Dokter ini gimana sih, saya yang hutanya gundul."
Dokter : "Oooohh....?????"
Setalah melakukan cek tekanan darah dan timbang badan oleh perawat masing-masing pasien masuk bilik yang dibatasi kain horden.
Pasien langsung tidur telentang dan ngangkang, kaki terangkat bertumpu pada sandaran kaki. sehingga memudahkan dokter periksa dengan cepat, begitu pindah bilik sudah mencapai sasaran.
Karena sudah 4 kali periksa kandungan rutin pada Klinik tersebut, ibu Marpuah asal Madura merasa bangga, kalau dokter kandungannya sangat mengenal dia, pasalnya setiap dokter masuk dan diperiksa pak dokter langsung menyapa akrab walau tanpa melihat wajahnya.
Sambil uwak-uwik, dudul sana dudul sini, pak dokter ngoceh sana-sini, yang akhirnya selalu becanda wah hutannya gundul ya Bu.
Suatu saat bu Marpuah ketemu dokter tersebut di pusat perbelanjaan, kontan sang ibu Marpuah menyapa dengan akrab.
Nyrocos sana-sini, pak dokter kebingungan, lalu bertanya ibu ini siapa??
Ibu Marpuah : "Ealaaah... Saya ibu Marpuah pak, masak lupa tho tiap Rabu pagi saya kan kontrol ke bapak."
Dokter : "Ya...Ya... Tapi pasien saya kan banyak bu".
Ibu Marpuah : "Alaaahh.... Dokter ini gimana sih, saya yang hutanya gundul."
Dokter : "Oooohh....?????"
Memandikan Tuan Dirumah
Ibu Ina akan pergi Arisan dan pembantunya Iyem disuruh membereskan rumah dan menjaga anaknya.
"Saya mau pergi ada urusan. Kamu mandikan anak-anak dan bersihkan semua ruangan rumah, Jangan lupa Yem, Mengerti ? "
"Iya Nya !" Jawab si pembantu.
Lalu ibu Ina pun pergi. Ketika pulang sore harinya, rumah dan anak-anak didapatinya belum pada mandi, maka marahlah ibu Ina pada pembantunya.
"Apa kerjamu sewaktu saya pergi, apa kamu tidak dengar pesan saya ?" bentaknya.
"Anu, Nya...Eh... maaf Nyonya. Saya tidak sempat membereskan rumah dan memandikan anak-anak, karena Tuan paksa saya untuk memandikannnya !" Jawab si pembantu dengan rasa takut.
"Saya mau pergi ada urusan. Kamu mandikan anak-anak dan bersihkan semua ruangan rumah, Jangan lupa Yem, Mengerti ? "
"Iya Nya !" Jawab si pembantu.
Lalu ibu Ina pun pergi. Ketika pulang sore harinya, rumah dan anak-anak didapatinya belum pada mandi, maka marahlah ibu Ina pada pembantunya.
"Apa kerjamu sewaktu saya pergi, apa kamu tidak dengar pesan saya ?" bentaknya.
"Anu, Nya...Eh... maaf Nyonya. Saya tidak sempat membereskan rumah dan memandikan anak-anak, karena Tuan paksa saya untuk memandikannnya !" Jawab si pembantu dengan rasa takut.
Membeli Obat Sipilis
Ada dua orang sahabat, Mamat dan Otong, keduanya memiliki hobby yang sama, yaitu memancing ikan. Karena keduanya masih pengangguran, maka mereka berdua selalu menghabiskan waktunya dengan memancing, dimanapun mereka menemukan tempat yang bisa dipancing ikannya.
Sudah tiga hari ini mereka memancing ikan di tiga tempat yang berbeda, si Mamat selalu mendapatkan hasil pancingan yang lumayan, sedangkan si Otong, selalu saja pulang dengan tangan hampa. Karena kesal dan putus asa, si Otong mulai bertanya kepada temannya,"eh Mat, lu mancing pake umpan apa sih, kok gue udah tiga hari ini gak dapet-dapet ikan, giliran kena, lepas lagi, giliran dapet, malah dapetnya tokai.."
Si Mamat Cuma nyengir meledek, dia lalu pergi menjauh. Si Otong makin kesal saja, dan akhirnya mereka pulang.
Keesokan harinya, nasib mujur masih berpihak kepada si Mamat, sedangkan nasib sial masih dipegang rekornya sama si Otong. Seharian mancing masih aja pulang dengan tangan kosong, sedangkan si Mamat pulang masih bisa bawa beberapa ikan betok dan mujaer.
Si Otong kembali bertanya,"Mat, lu pelit amat sih, kasih tau gue kek lu pake umpan apaan, gue udah 4 hari nih cuman liatin lu dapet banyak mulu! Pancing gue boro-boro ditowel, mungkin dilirik ikan aja nggak.."
Si Mamat malah meledek si Otong,"Wah lu emang bego Tong, Kalo bego mah jangan dipelihara. Kalo lu mau, mendingan lu pelihara ayam, ketahuan bisa bertelor, kalo bego lu pelihara, hasilnya kayak gini deh..he..heee..heee.."
Si Otong sudah tidak dapat menahan kesalnya, dia sampai memohon,"Ayolah Mat, kasih tau sedikit aja, ntar kan yang bikin umpannya gue sendiri".
"Gak ah, ini rahasia perusahaan, bukan untuk disebarkan titik. Lu apalagi saingan gue gak boleh tau, ntar gue kesaing!!", kata si Mamat, dan mereka pulang. Si Otong tambah kesal aja.
Hari ke enam, udah siang, nasib si Otong masih juga sama, udah siang panasnya ga kira-kira, ikan yang dipancing gak kena-kena, eh si Mamat malah udah dapet setengah ember.
"Wah gila, gue musti tau rahasianya nih, malu dong gue, masa mancing aja gak kena-kena, musti gue korek informasinya nih, gue harus dapet caranya!", kata Otong dalam hati yang sangat dongkol.
Otong mulai mendekati si Mamat, dan berkata,"OK deh Mat, gue nyerah abis ama lu, lu emang paling jago deh untuk urusan mancing, gue ngaku kalah!"
"Huuuahhaaa!!!!", "lu nyerah juga akhirnya, kan apa gue bilang, gue emang rajanya mancing, lu mah gak ada apa-apanya,"kata si Mamat dengan jumawa.
"Gue kan udah nyerah kalah, sekarang kasih tau gue dong pren, lu pake apa sih umpannya, kok bisa hebat gitu sih. Boleh dong dibagi ilmunya ama yang paling hebat,"kata Otong merayu.
"Setan! Nih bocah mau tau aja", kata Mamat dalam hati, tapi dia Cuma nyengir menang.
"Lu mao tau gue mancing pake apa?", kata si Mamat. (dalam hati,"gue kerjain aja biar kapok nih bocah")
"Iya, buruan kasih tau dong", kata si Otong mulai gak sabar.
"Beneran lu mau tau?", Kata si Mamat menyelidik. "Iya lah, kasih tau gue, gue ama lo kan "pren", gue gak bakal bilang-bilang ama siapa-siapa, gue janji, suwer coy..", kata si Otong dengan pasrah.
Si Mamat malah makin lebar senyumnya, "Ayo dong, jangan nyengir gitu, lu mao kasih tau gue gak sih?", kata si Otong mulai kesel.
"Pake obat Sipilis!", kata Mamat sekenanya sambil nyengir lebar. Si Otong yang sudah pasrah akhirnya tersenyum lega, dan dia buru-buru berdiri,"Gue pulang ah, capek gak dapet-dapet".
Keesokan paginya, Otong bangun pagi-pagi dan dengan semangat-45 segera pergi ke Apotek. Apoteknya aja belom buka, dan dia duduk sabar menunggu. "Pokoknya ini hari kemenangan gue, lihat aja lu Mat, lu pasti kalah hari ini!", umpat si Otong dalam hati.
"Mas,..Mas,..mau beli apa?", suara perempuan itu membuat si Otong kaget setengah mati, "Ngelamun ya mas? Masih pagi udah ngelamun", kata mbak cantik penjaga apotik.
"Eh Mbak, maaf, saya ampe kaget!", kata Otong sambil tersipu dan terpana melihat cewek cantik didepannya. "Ini loh,... sayaa mau.. beli obat..", kata Otong dengan suara tersipu-sipu.
"Iya mas ganteng, mau beli obat apa? Ampe apotek belon buka udah ditungguin..",kata si mbak. "Anu mbak..ss…sssaaa…ssaayy…saaayyyaa mau beli obat..."(berhenti bicara, antara takut, malu dan terpesona…)
"Aaan..nu mbak, sa..ya mau beli obat sipilis..",kata Otong ("wah keluar juga tuh omongan", katanya dalam hati)."kalo bisa sih untuk sipilis yang paling ganas ya mbak", Kata Otong mulai bisa menguasai diri. ("biarin, ntar si Mamat pasti kalah..hehehe.." kata Otong dalam hati)
Si Mbak Cantik terbelalak kaget," EE..Emang mas...udah... 'kena?'", dengan nada kaget dan takut.
Mendengar pertanyaan itu, si Otong buru-buru menjawab dengan senyum penuh kemenangan,"Sekarang sih belon mbak, tapi saya sangat yakin,....siang ini saya pasti 'Kena'!"
Sudah tiga hari ini mereka memancing ikan di tiga tempat yang berbeda, si Mamat selalu mendapatkan hasil pancingan yang lumayan, sedangkan si Otong, selalu saja pulang dengan tangan hampa. Karena kesal dan putus asa, si Otong mulai bertanya kepada temannya,"eh Mat, lu mancing pake umpan apa sih, kok gue udah tiga hari ini gak dapet-dapet ikan, giliran kena, lepas lagi, giliran dapet, malah dapetnya tokai.."
Si Mamat Cuma nyengir meledek, dia lalu pergi menjauh. Si Otong makin kesal saja, dan akhirnya mereka pulang.
Keesokan harinya, nasib mujur masih berpihak kepada si Mamat, sedangkan nasib sial masih dipegang rekornya sama si Otong. Seharian mancing masih aja pulang dengan tangan kosong, sedangkan si Mamat pulang masih bisa bawa beberapa ikan betok dan mujaer.
Si Otong kembali bertanya,"Mat, lu pelit amat sih, kasih tau gue kek lu pake umpan apaan, gue udah 4 hari nih cuman liatin lu dapet banyak mulu! Pancing gue boro-boro ditowel, mungkin dilirik ikan aja nggak.."
Si Mamat malah meledek si Otong,"Wah lu emang bego Tong, Kalo bego mah jangan dipelihara. Kalo lu mau, mendingan lu pelihara ayam, ketahuan bisa bertelor, kalo bego lu pelihara, hasilnya kayak gini deh..he..heee..heee.."
Si Otong sudah tidak dapat menahan kesalnya, dia sampai memohon,"Ayolah Mat, kasih tau sedikit aja, ntar kan yang bikin umpannya gue sendiri".
"Gak ah, ini rahasia perusahaan, bukan untuk disebarkan titik. Lu apalagi saingan gue gak boleh tau, ntar gue kesaing!!", kata si Mamat, dan mereka pulang. Si Otong tambah kesal aja.
Hari ke enam, udah siang, nasib si Otong masih juga sama, udah siang panasnya ga kira-kira, ikan yang dipancing gak kena-kena, eh si Mamat malah udah dapet setengah ember.
"Wah gila, gue musti tau rahasianya nih, malu dong gue, masa mancing aja gak kena-kena, musti gue korek informasinya nih, gue harus dapet caranya!", kata Otong dalam hati yang sangat dongkol.
Otong mulai mendekati si Mamat, dan berkata,"OK deh Mat, gue nyerah abis ama lu, lu emang paling jago deh untuk urusan mancing, gue ngaku kalah!"
"Huuuahhaaa!!!!", "lu nyerah juga akhirnya, kan apa gue bilang, gue emang rajanya mancing, lu mah gak ada apa-apanya,"kata si Mamat dengan jumawa.
"Gue kan udah nyerah kalah, sekarang kasih tau gue dong pren, lu pake apa sih umpannya, kok bisa hebat gitu sih. Boleh dong dibagi ilmunya ama yang paling hebat,"kata Otong merayu.
"Setan! Nih bocah mau tau aja", kata Mamat dalam hati, tapi dia Cuma nyengir menang.
"Lu mao tau gue mancing pake apa?", kata si Mamat. (dalam hati,"gue kerjain aja biar kapok nih bocah")
"Iya, buruan kasih tau dong", kata si Otong mulai gak sabar.
"Beneran lu mau tau?", Kata si Mamat menyelidik. "Iya lah, kasih tau gue, gue ama lo kan "pren", gue gak bakal bilang-bilang ama siapa-siapa, gue janji, suwer coy..", kata si Otong dengan pasrah.
Si Mamat malah makin lebar senyumnya, "Ayo dong, jangan nyengir gitu, lu mao kasih tau gue gak sih?", kata si Otong mulai kesel.
"Pake obat Sipilis!", kata Mamat sekenanya sambil nyengir lebar. Si Otong yang sudah pasrah akhirnya tersenyum lega, dan dia buru-buru berdiri,"Gue pulang ah, capek gak dapet-dapet".
Keesokan paginya, Otong bangun pagi-pagi dan dengan semangat-45 segera pergi ke Apotek. Apoteknya aja belom buka, dan dia duduk sabar menunggu. "Pokoknya ini hari kemenangan gue, lihat aja lu Mat, lu pasti kalah hari ini!", umpat si Otong dalam hati.
"Mas,..Mas,..mau beli apa?", suara perempuan itu membuat si Otong kaget setengah mati, "Ngelamun ya mas? Masih pagi udah ngelamun", kata mbak cantik penjaga apotik.
"Eh Mbak, maaf, saya ampe kaget!", kata Otong sambil tersipu dan terpana melihat cewek cantik didepannya. "Ini loh,... sayaa mau.. beli obat..", kata Otong dengan suara tersipu-sipu.
"Iya mas ganteng, mau beli obat apa? Ampe apotek belon buka udah ditungguin..",kata si mbak. "Anu mbak..ss…sssaaa…ssaayy…saaayyyaa mau beli obat..."(berhenti bicara, antara takut, malu dan terpesona…)
"Aaan..nu mbak, sa..ya mau beli obat sipilis..",kata Otong ("wah keluar juga tuh omongan", katanya dalam hati)."kalo bisa sih untuk sipilis yang paling ganas ya mbak", Kata Otong mulai bisa menguasai diri. ("biarin, ntar si Mamat pasti kalah..hehehe.." kata Otong dalam hati)
Si Mbak Cantik terbelalak kaget," EE..Emang mas...udah... 'kena?'", dengan nada kaget dan takut.
Mendengar pertanyaan itu, si Otong buru-buru menjawab dengan senyum penuh kemenangan,"Sekarang sih belon mbak, tapi saya sangat yakin,....siang ini saya pasti 'Kena'!"
Pemain Piano Berukuran 25 cm
Seorang pria masuk ke bar dalam keadaan setengah mabuk. Di atas meja bar dia melihat seorang manusia kecil setinggi kurang lebih 25 cm saja. Dia pun sangat terkejut dan bertanya kepada bartender : "Hah? Apa ini?"
Sang bartender menjawab dengan tenang : "Dia seorang pianis."
Pria itu tidak percaya. Namun bartender tersebut memberinya sebuah buku berisi lagu-lagu. Pria tadi mengangkat sang pianis dan meletakkannya di atas piano. Luar biasa. Ternyata sang pianis mampu bermain piano dengan sangat memukau layaknya maestro kelas dunia.
Pria tadi terkesima : "Wow! Saya juga mau yang seperti ini. Dari mana kamu mendapatkannya?"
Bartender menjawab : "Saya menemukannya di hutan belakang. Di sana ada sebuah lampu, jika digosok muncullah jin yang akan mengabulkan satu permintaan untukmu."
Maka pria itu pun bergegas keluar menuju hutan dan menemukan sebuah lampu. Pria tersebut menggosoknya dan muncul jin berwarna hijau yang memberinya kesempatan untuk mengajukan satu permintaan.
Pria itu berteriak : "Saya mau uang seratus milyar!"
Dalam hitungan detik, dari langit berjatuhan milyaran udang. Pria tadi berlari ketakutan dan kembali ke bar dengan marah-marah.
Dia berkata kepada bartender : "Saya sudah menemukannya. Kau gila! Ketika aku meminta uang seratus milyar, dia malah memberiku udang seratus milyar!"
Sang bartender memandang pria tadi, kemudian bertanya balik : "Memangnya kamu pikir aku dulu minta pianis berukuran 25 cm?"
Sang bartender menjawab dengan tenang : "Dia seorang pianis."
Pria itu tidak percaya. Namun bartender tersebut memberinya sebuah buku berisi lagu-lagu. Pria tadi mengangkat sang pianis dan meletakkannya di atas piano. Luar biasa. Ternyata sang pianis mampu bermain piano dengan sangat memukau layaknya maestro kelas dunia.
Pria tadi terkesima : "Wow! Saya juga mau yang seperti ini. Dari mana kamu mendapatkannya?"
Bartender menjawab : "Saya menemukannya di hutan belakang. Di sana ada sebuah lampu, jika digosok muncullah jin yang akan mengabulkan satu permintaan untukmu."
Maka pria itu pun bergegas keluar menuju hutan dan menemukan sebuah lampu. Pria tersebut menggosoknya dan muncul jin berwarna hijau yang memberinya kesempatan untuk mengajukan satu permintaan.
Pria itu berteriak : "Saya mau uang seratus milyar!"
Dalam hitungan detik, dari langit berjatuhan milyaran udang. Pria tadi berlari ketakutan dan kembali ke bar dengan marah-marah.
Dia berkata kepada bartender : "Saya sudah menemukannya. Kau gila! Ketika aku meminta uang seratus milyar, dia malah memberiku udang seratus milyar!"
Sang bartender memandang pria tadi, kemudian bertanya balik : "Memangnya kamu pikir aku dulu minta pianis berukuran 25 cm?"
Sarjana Ekonomi VS Lulusan SD
Seorang Sarjana Ekonomi yang beberapa kali memulai bisnisnya namun selalu gagal terheran-heran dengan kisah sukses seorang pengusaha sukses yang ternyata latar pendidikannya hanyalah seorang lulusan SD.
Sang Sarjanapun datang kepada Si Pengusaha lulusan SD itu untuk sekedar bertanya mengenai kiat-iat suksesnya. Lantas terjadilah dialog seperti ini :
Sarjana : "Pak, bagaimana bapak bisa sesukses ini dalam menangani usaha bapak selama ini?"
Pengusaha : "O..itu mudah saja pak..saya tidak pernah ambil untung banyak-banyak terhadap semua barang yang saya jual !"
Sarjana : "Berapa bapak ambil keuntungan ?"
Pengusaha : "Hanya 1% !"
Sarjana : "Cuma 1% ? pantas..!"
Pengusaha : "Iya pak cuma 1% untungnya. Jadi kalau saya beli dengan harga satu juta maka saya menjualnya dengan harga dua juta."
Sarjana : "@#$^&*?!!!!"
Sang Sarjanapun datang kepada Si Pengusaha lulusan SD itu untuk sekedar bertanya mengenai kiat-iat suksesnya. Lantas terjadilah dialog seperti ini :
Sarjana : "Pak, bagaimana bapak bisa sesukses ini dalam menangani usaha bapak selama ini?"
Pengusaha : "O..itu mudah saja pak..saya tidak pernah ambil untung banyak-banyak terhadap semua barang yang saya jual !"
Sarjana : "Berapa bapak ambil keuntungan ?"
Pengusaha : "Hanya 1% !"
Sarjana : "Cuma 1% ? pantas..!"
Pengusaha : "Iya pak cuma 1% untungnya. Jadi kalau saya beli dengan harga satu juta maka saya menjualnya dengan harga dua juta."
Sarjana : "@#$^&*?!!!!"
Langganan:
Postingan (Atom)